Yatimin dan Suwaji saat bekerja penyulingan (memproduksi) minyak sere
Dlingo media binanguncemerlangtv.co,id, ekonomi, Barang pekerjaan yang langka dan dianggap sepele oleh banyak orang dianggap tidak menguntungkan dan tidak menarik, karena dianggap tidak dianggap serta remeh.
Namun lain halnya yang dilakukan oleh Yatimin (78) dan Suwaji (60) warga Kebo Sungu Dlingo Kapanewon Dlingo Kabupaten Bantul.
Keduanya justru tetap semangat menekuni pekerjaannya yang jarang dilakukan oleh orang lain.
Kedua kakakk ini sejak tahun 2007 hingga kini di tempat produksinya yajg ada di dekat rumahnya masih bertahan menekuni pekerjaanya sebagai produsen (tukang penyulingan) daun sere untuk dijadikan produk jadi berupa minyak daun sere yang diberinama
Sereh Wangi Shafaluna untuk dipasarkan dan guna mendapatkan keuntungan untuk memenuhi butuhan hidupnya sehari-hari.
"Saya kebetulan pensiunan karyawan Dinas Kehutanan DIY. Pada saat itu memperoleh ilmu tentang mengolah daun sere menjadi minyak sere wangi. Maka setelah pensiun hingga kini dirinya bersama Suwaji masih semangat menekuni pekerjaan ini.
Alhamdulilah ini tetap meguntungkan", tutur Yatimin saat ekspos dinamika bersama Diskominfo Bantul, Rabu (15/4/2026).
Keduany menjelaskan untuk memproduksi l leter minyak daun sere membutuhkan daun seri uang kadar airnya rendah sekitar 100 kg. Waktu penyulinganya dengan cara dikrengseng melalui dipanasi dengan api kayu dengan jedeng.
Tungmu jedeng harus hampa udara selama sekitsr 3 jam untuk sekali masak.
Limbahnya sere dapat dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman sere atau yang lainya meskipun bila dijual harganya relatif sangat murah.
Untuk memproduksi satu liter minyak daun sere asli dengan harga jual sekitar Rp.250.000 melalui iine atau langsung ke tempat diantaranya ke Jawa Tengah membutuhkan biaya produksi relatif sedikit karena produsen relatif mudah mendapatkan dan memiliki kayu sebagai bahan bakar.
"Rahasianya tutup tumpu saat digunakan penyulingan harus ditutup benar-benar rapat karena jika tidak rapat maka tak akan berhasil mengeluarkan cairan minyak", katanya.
Tenteng bahan baku sere didapat dengan cara membeli di warga dengan harga Rp 500 per kg. Daun yang dipanen sudah berumur sekitar 35 hari sehingga sudah tua dan kadar minyaknya bagus.
Kebetulan di sekitar desa Wisata Inovatif ini banyak terdapat lahan tanaman sere dan kayu putih (atsiri,) sehingga bahan baku mudah dan terbukti.
Menurut Sumaryanto, seorang inisiatif Desa Wisara Enovatif Kebo Sungu, di tempat ini juga sering dapat untuk pelatihan pemburan minyak sere.
Dengan maksud memajukan desa, maka sebenarnya keberadaan usaha ini memperoleh apresiasi dari sejumlah pihak.
Salah satunya Almarhun Drs.H. Suharsono yang pada saat itu menjabat sebagai Bupsti Bantul.
Daun sere wangi ini cirikhasnya baunya harus khas rempah, menyengat dan hangat bila digunakan terkena kulit. Salah satu manfaatnya untuk obat kulit gatal. sup
Berita Terkait