Kulon Progo- BinanguncemerlangTV.co.id, lintas budaya, semangat kebersamaan dan persaudaraan, Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan (HAK) Kevikepan Yogyakarta Barat melaksanakan kunjungan persaudaraan ke Paguyuban Penghayat Kepercayaan “Tulis Tanpa Papan” yang berlokasi di Dusun Seling, Kapanewon Temon, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kegiatan ini mengusung tema “Menyelaraskan Rasa dalam Merajut Persaudaraan”, sebagai upaya memperkuat harmoni dalam keberagaman.
Perbedaan dipandang bukan sebagai pemisah, melainkan sebagai warna dalam satu rajutan kehidupan, menghadirkan keindahan persatuan layaknya pelangi yang beraneka ragam.
Koordinator Paguyuban Komisi HAK Kevikepan Yogyakarta Barat, B. Bellariantata, menyampaikan bahwa seluruh manusia pada hakikatnya adalah bersaudara.
Ia mengajak semua pihak untuk terus belajar saling mendengarkan, memahami, serta menumbuhkan empati tanpa melukai pihak lain karena persaudaraan tidak dirajut dari kesamaan tetapi dari keberanian dan kerendahan hati untuk menyelaraskan rasa, ungkapnya. Ia juga menyinggung ajaran kasih universal yang mengajak manusia untuk menghargai seluruh ciptaan sebagai bagian dari persaudaraan yang utuh sebagai simbol kebersamaan, rombongan membawa tanaman sawo kecik yang dalam filosofi Jawa dimaknai sebagai “sarwa becik” (serba baik).
Pesan yang disampaikan adalah agar nilai-nilai kebaikan terus dipupuk, sementara hal-hal yang kurang baik dikelola dengan bijak agar tidak merusak kehidupan bersama ungkapanya 29 April 2026 kerika di kutip awak m edia ini.
Turut diserahkan pula tempat sampah sebagai simbol pengelolaan hal negatif menjadi sesuatu yang bermanfaat. Kunjungan ini disambut hangat oleh Trisna Harjana dari Paguyuban Penghayat Kepercayaan
“Tulis Tanpa Papan” Ia menjelaskan bahwa makna “Tulis Tanpa Papan” adalah ajaran yang tidak sekadar tertulis di media fisik, melainkan tertanam dalam hati yang suci, ditulis oleh kekuatan Ilahi dalam batin manusia.
Lebih lanjut disampaikan bahwa inti ajaran tersebut adalah penyembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang di yakini hadir secara nyata dalam diri manusia (kasunyatan).
Ajaran ini menekankan pentingnya penghayatan batin (kawruh batin), serta pembentukan budi pekerti luhur dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, sejalan dengan nilai-nilai Pancasila.
Di Kabupaten Kulon Progo terdapat sekitar 19 paguyuban penghayat kepercayaan dengan jumlah anggota kurang lebih 3.000 orang kemudian keberadaan paguyuban ini menjadi bagian penting dalam menjaga nilai moral, budaya dan persatuan di tengah masyarakat.
Acara diakhiri dengan penyerahan simbolis tali asih berupa pohon sawo kecik dari B. Bellariantata kepada Trisna Harjana sebagai wujud persaudaraan dan komitmen bersama dalam menjaga kebersamaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Semoga kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam mempererat ukhuwah insaniyah, menumbuhkan toleransi, serta menghadirkan kedamaian di tengah keberagaman bangsa, Firmanda
Berita Terkait