Latest News
  • JAJARAN REDAKSI MENGUCAPKAN TERIMAKASIH KEPADA PEMIRSA YANG TELAH  MELIHAT WEBSITE WWW.BINANGUNCEMERLANGTV.CO.ID, KLIK  YOUTUBE BINANGUN CEMERLANG TV.

Dalam Islam kurban mengalami transformasi makna


Yogyakarta – media binanguncemerlangtv.co.id, update syiar islam, momen iedul adha 1447 H/2026 umat muslim yang mengikuti idul adha di Jogja Eskpo Center khusuk mendengarkan sang khotib dalam memberikan pengetahuan dalan ceramahnya.

Guru besar UIN Yogya Prof. Admad Muttaqin saat menyampaikan pada iedul adha 27 Mei 2026 lantang mendalam studi agama – agama, kita mengenal konsep sacred sacrifice. Pratek pengorbanan (sacrifice) juga dapat dijumpai dalam agama - agama lain, selain Islam.

Dalam tradisi Yahudi ( melalui kisah Akedah ), pengorbanan dipandang sebagai ujian ketaatan mutlak. Dalam tradisi Hindu, dikenal istilah Yajna, yang merupakan pengobanan suci untuk menjaga harmoni alam semesta. Bahkan dalam masyarakat agraris kuno , kurban sering kali diberikan kepada “bumi” agar tetap subur.

Namun dalam Islam, kurban mengalami transfotmasi makna. Islam mengubah kurban dari sekedar ritual “ pemberian makan kepada Tuhan” ( yang itu mustahil bagi Allah ) menjadi instrument kesalehan social. Darah yang mengalir adalah symbol penyembelihan egoisme diri, sedangkan daging yang dibagikan adalah instrument pengentasan lapar bagi sesama. Allah berfirman dalam QS. Al-Hajj ayat 37: Artinya :

“ Daging - daging unta dan darahnya itu sekali - kali tidak dapat mencapai ( keridhaan ) Allah, tetapi ketakwaan kamulah yang dapat mencapainya.

Ayat ini menegaskan bahwa Allah SWT tidak butuh darah hewan. Yang Allah nilai adalah transformasi batin kita.

Jika setelah berkurban kita masih sombong, masih kikir, dan masih tidak peduli pada tetangga dan kerabat yang lapar, maka kurban kita sebatas” pindah daging “ dari kandang ke piring, belum menjadi “ ibadah “ yang merasuk ke relung kalbu. Rasulullah SAW bersabda mengenai keutamaan berqurban bagi yang mampu :

Barang siapa yang memiliki kelapangan ( harta ) namun ia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat sholat kami” ( HR. Ahmad dan Ibnu Majah ). Pesan hadist Rasulullah tersebut sangat kuat dan tetap relevan bagi kita yang hidup di era kontemporer saat ini. Mungkin kita bertanya mengapa Rasulullah SAW sampai melarang mendekati tempat sholat pada umatnya yang tidak berkurban padahal mereka memiliki kelapangan rejeki dan mampu ? Jawaban tentang pertanyaan ini

adalah karena Rasulullah SAW menginginkan keshalehan spiriatual umatnya harus sejalan dengan keshalehan social. Dalam QS. Al-Kautsar ayat 2 Allah berfirman : Yang artinya :

Maka dirikanlah sholat dan berqurbanlah. Menurut Ibnu Katsir, makna yang dimaksud dengan kata nahr ialah menyembelih hewan kurban. Karena itulah maka Rasulullah SAW seusai sholat Idul Adha segera menyembeluh kurbannya.

Abu Ja’far ibnu Jarir juga menjelaskan bahwa makna yang dimaksud dari ayat kedua QS. Al Kautsar tersebut adalah : “ Jadikanlah sholatmu semuanya tulus ikhlas hanya untuk Tuhanmu, bukan untuk berhala atau sesembahan selainNya.

Demikian pula qurbanmu jadikanlah hanya untuk Allah SWT , bukan untuk berhala - berhala, sebagai ungkapan rasa syukurmu terhadapNya atas kemuliaan dan kebaikan tiada taranya yang di khususkanNya buatmu sebagai anugrah dariNya.

Kita mesti sadar bahwa harta dan kekayaan yang ada bukanlah milik kita. Ada hak - hak orang lain, terutama yang tidak berpunya yang perlu kita perhatikan.

Sebagai ungkapan syukur atas berbagai kenikmatan yang telah Allah limpahkan pada kita, maka mari berqurban semata - mata karena Allah, bukan karena mengharap pujian maupun ketenaran.

Di tengah kemajuan teknologi dan ekonomi digital, kesenjangan sosial masih menjadi tantangan nyata. Semangat kurban mengajak kita untuk “ menyembelih “ sifat mementingkan diri sendiri ( self – centered dan egoism). Iedul Adha mengajarkan bahwa manusia mulia bukan karena apa yang dimiliki tetapi karena apa yang rela dikurbankannya karena demi kebaikan dan kemaslahatan. Di era kontemporer ini, semangat qurban menjadi sangat relevan.

Kita hidup di jaman individualisme, materialisme, kompetisi ekonomi, dan krisis empati. Banyak orang kaya harta tetapi miskin solidaritas.

Banyak yang cerdas secara intelektual tetapi tumpul secara moral dan social. Na’uduuszu billaah tsumma na’uudzubillahi mindzaalik.

Karena itu semangat kurban harus diaktualisasikan dalam kehidupan sehari - hari dalam bentuk : kurban melawan korupsi; kurban melawan kerakusan ekonomi; kurban melawan hoaks dan kebencian; kurban untuk melestarikan lingkungan hidup; serta kurban demi tercapainya keadilan social dan kemanusiaan. Papar, Ahmad Mutaqin di hadapan ribuan jamaah tersebut. Tim red

Berita Terkait


Tidak Ada Komentar


Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi