Kulon Progo media Binanguncemerlangtv.co.id. kabar seputar pendidikan. Paroki Gereja Santa Maria Bunda Penasihat Baik Wates Jumat 24 Mei menyelenggarakan Seminar berdasarkan Ensiklik dari Paus Fransiskus tentang Laudato Si (Terpujilah Engkau Ya Tuhan).
Berlokasi di Aula Ibuning Pirembag Sae, Seminar ini diikuti kurang lebih 100 peserta. Yang terdiri dari para anggota Dewan Pastoral Pleno Paroki Wates, utusan Lingkungan-Lingkungan, dan umat lain yang berminat.diantaranya beberapa mahasiswa-mahasiswi PGRI Kulon Progo, juga penggiat lingkungan hidup Nusantara Ibu.
Acara Seminar ini merupakan program kerja Dewan Pastoral Paroki (DPP)Wates, Kulon Progo. Ketua Bidang Pelayanan Kemasyarakatan Sudarsono yang berkolaborasi dari Koordinator Tim Pelayanan Keutuhan (KTP) Ciptaan, (Ery Widiyanto) Pengembangan Sosial Ekonomi (Sigit Sukmono) dan Kerasulan Awam (Petrus Surjiyanta) Ketika memberikan rilis kepada media BCTV usai acara bahwa momen seminar Ensiklik Laudato Si ini telah berusia 9 tahun.
Ensiklik berfokus pada kepedulian terhadap lingkungan alam dan semua orang serta pertanyaan yang lebih luas hubungan antara Tuhan, manusia dan bumi. Ibu Bumi Sebagai Rumah Bersama” sedangkan tujuan adalah menumbuhkan kesadaran dan kepedulian untuk menjaga dan merawat bumi sebagai rumah bersama serta adanya pertobatan ekologis. Demikian di paparkan Petrus Surjiyanta saat merilis acara kepada wartawan binanguncemerlangtv.co.id.
Di tambahkan oleh petrus, Etik Linawati yang muslimah sehingga seminar ini sangat berwarna interreligius yang luar biasa. Sementara itu sebagai narasumber adalah Romo Aloys Budi Purnomo Pr selaku Pastor Paroki Wates Kulon Progo dengan kompetensinya yang mumpuni.
Romo Budi menjelaskan gagasan dasar Ensiklik Laudato Si’ tentang ajaran Paus Fransiskus untuk perawatan Bumi, sebagai rumah bersama. Romo Budi mengawali presentasinya dengan mengajak peserta untuk menyanyikan lagu “Laudato Si’ Mi Signore” yang dia ciptakan berdasarkan Ensiklik Laudato Si’ artikel 1-2. Dalam artikel tersebut, Paus Fransiskus mengajarkan,
“Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudari kami, Ibu Pertiwi, yang memelihara dan mengasuh kami, dan menumbuhkan aneka ragam buah-buahan, beserta bunga warna-warni dan rumput-rumputan.
Saudari ini sekarang menjerit karena segala kerusakan yang telah kita timpakan padanya, karena penggunaan dan penyalahgunaan kita yang tidak bertanggung jawab atas kekayaan yang telah diletakkan Allah di dalamnya.
Dalam Ensilkiknya Paus Fransiskus membuka mata kita semua atas realitas yang terjadi yakni, polusi dan perubahan Iklim, polusi, limbah, dan budaya membuang, iklim sebagai kebaikan bersama, terjadi masalah air, hilangnya keanekaragaman hayati, penurunan kualitas hidup manusia dan kemerosotan sosial, ketimpangan global, tanggapan-tanggapan yang lemah dan keragaman pendapat para pemimpin dunia (Bab I Ensiklik Laudato Si’).
Dengan bersumber dari Injil yang menawarkan cahaya iman melalui hikmat cerita-cerita Alkitab tentang Misteri Alam Semesta serta Pesan Setiap Makhluk dalam Harmoni Seluruh Ciptaan dan Persekutuan Universal kita diajak untuk memahami tujuan umum harta benda demi kesejahteraan umum. Perawatan Bumi dapat dilakukan sesuai tatapan Yesus terhadap alam semesta dan sesama (Bab II Ensiklik Laudato Si’).
Paus Fransiskus memberikan beberapa pedoman orientasi dan aksi untuk perawatan Bumi. Pedoman itu meliputi dialog tentang Lingkungan Hidup dalam Politik Internasional, Dialog untuk Kebijakan Baru Nasional dan Lokal,
Dialog dan Transparansi dalam Pengambilan Keputusan, Politik dan Ekonomi dalam Dialog untuk Pemenuhan Manusia dan pentingnya Agama-agama dalam Dialog dengan Sains. Akhirnya, Ensiklik Laudato Si’ mengajarkan pentingnya pendidikan dan spiritualitas ekologis. Hal itu mencakup: pendidikan menuju Gaya Hidup yang Baru,
Pendidikan untuk Perjanjian antara Manusia dan Lingkungan Hidup, Pertobatan Ekologis, Kegembiraan dan Damai, Cinta dalam Ranah Sipil dan Politik, Tanda-tanda Sakramental dan Istirahat yang Dirayakan, Allah Tritunggal dan Hubungan Antara Makhluk dan ajaran tentang Ratu Seluruh Dunia Ciptaan yang Melampaui Matahari.
Ensiklik Laudato Si’ ditutup dengan Doa untuk bumi kita dan Doa umat Kristiani bersama semua makhluk (Bab VI Ensiklik Laudato Si’). Sebelum mengakhiri presentasinya Romo Dr. Aloys Budi Purnomo,Pr. memberikan pertanyaan: Bagaimana Paroki Wates mewujudkan spiritualitas Ensiklik Laudato Si’ ?
Banyak penanggap secara umum menyatakan menjaga dan merawat lingkungan hidup ini sangat penting dan perlua ada aksi nyata sebagai bentuk pertobatan ekologis. Maka kegiatan seminar ini akan berlanjut dengan aksi pada Minggu, 26 Mei 2024
Untuk penanaman pohon buah yang akan dibagikan kepada wilayah Kokap, wilayah Temon dan wilayah Wates serta tanah pekarangan milik PGPM Paroki Wates di daerah Tayuban, Panjatan, Kulon Progo, Yogyakarta. Demikian menurut Ery Widiyanto sebagai Koordinator Pelayanan Keutuhan Ciptaan Dewan Pastoral Paroki Wates. (editor bud)
Bagus kegiatan edukatif untuk gerakan kemanusiaan menjaga dan merawat bumi yg sekarang sedang menjerit karena ulah manusia yg kurang bertanggung jawab dan egois tidak menyadari bahwa bumi ini adalah rumah bersama
Bagus kegiatan edukatif untuk gerakan kemanusiaan menjaga dan merawat bumi yg sekarang sedang menjerit karena ulah manusia yg kurang bertanggung jawab dan egois tidak menyadari bahwa bumi ini adalah rumah bersama
Bagus kegiatan edukatif untuk gerakan kemanusiaan menjaga dan merawat bumi yg sekarang sedang menjerit karena ulah manusia yg kurang bertanggung jawab dan egois tidak menyadari bahwa bumi ini adalah rumah bersama
Balas