Yogyakarta – media binanguncemerlangtv.co.id, pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, Dr. H. Hilmy Muhammad MA (Gus Hilmy) dalam ceramah iedul fitri tahun ini,
Anggota DPD RI ini menyampaikan juga menekankan pentingnya persatuan dan kesatuan dalam kehidupan. Hal itu disampaikan dalam khotbahnya selaku khatib dalam Ibadah Sholat Idul-Fitri 1447 Hijriyah (2026 Masehi) di Masjid Pondok Pesanfren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, Sabtu (21/3/2026).
Disampaikan, ? hadirin-hadirat yang berbahagia, Alhamdulillah, berkat rahmat Allah Ta’ala, di pagi yang cerah dalam suasana kegembiraan Hari Raya Fitri ini, kita dapat menunaikan Sholat Idul Fitri bersama-sama.
Kasih sayang dan kesejahteraan semoga senantiasa terlimpahkan kepada Kanjeng Nabi Muhammad sallallah ‘alayh wasallam, seluruh keluarga, para sahabat dan kita semua para pengikut beliau, amiiin.
"Antara perkara yang wajib dilakukan oleh setiap Muslim, sebagaimana shalat, puasa dan zakat adalah menjaga persatuan dan menghindarkan diri dari perpecahan.
Dalam ayat yang tadi kami baca dalam muqaddimah khutbah, perintah itu didahului dengan perintah untuk bertaqwa dengan sebenar-benarnya", ungkap Gus Hilmy.
Dikatakan, hal ini memberi pengertian bahwa menjaga persatuan dan menghindar dari perpecahan adalah realisasi ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala.
Tema ini kiranya penting kita sampaikan sekarang, saat saudara-saudara kita kaum Muslim di Iran sedang dalam keadaan diperangi, dizalimi dan dikeroyok oleh dua negara penjajah, yaitu Amerika dan Israel. Sungguh kita menyayangkan ketidakmampuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam mencegah terjadinya perang.
Kita juga prihatin, Organisasi Kerjasama Islam (OKI) tidak membantu Iran melawan penjajah, dan malah terkesan pecah dan terbengkalai. Sungguh keadaaan organisasi -organisasi itu seperti sudah tidak relevan lagi, tidak berguna, kalah dengan para Adikuasa. Sudah begitu, sebagian kita juga bertanya,
Negara-negara Islam tetangganya kok tidak membantu, malah ikut memerangi ?” Inilah keadaan kita kaum Muslimin hari ini, yang sama sekali tidak bermutu, tidak bersatu dan tidak terkonsolidasi.
Padahal, dalam ajaran agama, kita diminta untuk saling menghormati dan saling tolong-menolong sebagai saudara.
Tidak malah saling mencurigai, saling memotong dan menikam sesama. Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu ‘alaywasallam memberi kita tuntunan cara menjaga hubungan antar personal sebagaimana riwayat Imam Muslim dari Sahabat disebutkan janganlah kalian saling mendengki, jangan saling menyakiti dalam jual beli.
Jangan saling benci, jangan saling membelakangi (mendiamkan) dan jangan menjual dagangan yang sudah dijualpada saudaranya. Melainkan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. "Muslim adalah saudara muslim lain.
Karena itu, ia tidak boleh menzalimi, membiarkan, mendustai dan menghina yang lain", katanya. Ditekankan, cukuplah seseorang dianggap berdosa jika ia menghina saudaranya yang muslim.
Setiap muslim atas muslim lainnya itu haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya. Sedang sebagai anggota kelompok, tidak ada yang lebih pantas dijunjung tinggi selain kehormatan Islam itu sendiri.
Kelompok atau organisasi yang kita anut, baik itu yang berbasis agama, sosial, ekonomi, politik, hobby, olahraga, suku, daerah, atau bahkan negara, sesungguhnya hanyalah media dan sarana kita beribadah. Karenanya tidak boleh lebih kita utamakan daripada kepentingan agama.
Fanatisme keterlaluan, merasa lebih hebat dan superior dari yang lain. Hal itu tentang mentalitas ego sektoral yang berlebihan menjadi bibit-bibit perpecahan umat.
Mereka yang melakukan yang demikian itu diancam tidak dianggap sebagai bagian dari ummat Kanjeng Nabi Muhammad shalallahu ‘alayh wasallam.
Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Al-An’am ayat 159 hang artinya Sesungguhnya orang pecah belah menjadikan mereka bergolong-golongan, maka tiada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka.
Kaum muslimin rahimakumullah, bagi kita di Indonesia, tentu tantangannya berat sekali, karena mayoritas penduduknya adalah muslim, dan kebhinnekaan adalah ciri kebangsaan kita.
Tapi di situlah ladang dan media ibadah kita. Hal itu bisa dimulai dengan tidak mudah berburuk sangka, dan tidak gampang menyalahkan yang lain.
Para guru dan da’i punya peran penting menjaga dakwahnya dengan tidak mengejek dan mendiskreditkan yang lainnya dengan mengatakan
“kelompok jenggot, kathok cingkrang, golongan TBC, ahli bid’ah, pengusung khilafah dan semacamnya, meski dengan nada guyon.
Ungkapan-ungkapan semacam itu di ruang publik, akan membuat yang lain marah dan membalas di depan jamaahnya.
Akibatnya hal itu akan semakin memperlebar jarak dan mempertajam konflik. "Kita tidak sedang melarang diskusi.
Diskusi akan sangat baik bila dilakukan di ruangan khusus, dan dilakukan oleh orang-orang yang memang memiliki kematangan dan kompetensi ilmiah. Para tokoh juga seharusnya mengedepankan keteladanan", sambunnya.
Mereka harus selalu berupaya menebalkan persamaan dan menyederhanakan perbedaan. Saling bersilaturrahim dan musyawarah tentu akan menjadi jalan mudah mencairkan masalah. Dan bila ada perbedaan,
Al-Qur’an dalam Alquran ?ada tuntunan yaitu kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (Al-Sunnah), jika kamu beriman kepada Allah dan Hari Kemudian.
"Dengan demikian, mengupayakan persatuan adalah tugas kita semua. Dasarnya adalah kita semua setara, sama-sama sebagai hamba Allah, yang kelebihan kita dinilai bukan dari ilmu, kekayaan atau banyaknya massa, tapi berdasar taqwa.
Selain itu kita dititahkan sebagai bersaudara, yang karena itu harus saling menjaga dan menasehati, tidak malah saling menyakiti.
Tantangan ke depan banyak sekali, tapi dengan kebersamaan,semua tujuan pasti akan terlampoi.
Dimulai dari keluarga, kemudian kepada anggota kelompok kita. Persatuan bila hanya antarpribadi maka tidak akan berdampak nyata. Yang seharusnya adalah bersatu secara institusi atau merger.
Bila keteladanan dan ajakan tulus seperti ini bisa dilakukan kepada banyak pihak, kita bisa berharap kesadaran akan terjadi di banyak tempat.
Dalam ibadah sholat Id kali ini bertindak selaku Imam Pengasuh Ponpes Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, KH. R. Abdul Hamid Abdul Qudir Munawwir.
Usai sholat dan khotbah id ini selesai, acara dilanjutkan bersalam salaman seluruh jamaah dan syawalan bersama. (Sup)
Berita Terkait