Tim menyatu untuk melestarikan sejarah daerah Blmbangangan
Banyuwangi Media binanguncemerlangtv.co.id, warta ragam keunikan, semangat masa lalu masih menjadi suport yang baik muatan ini sebagai bagian dari masa lalu dimana Kerajaan Blambangan kini bangkit kembali melalui sekelompok pemuda yang menyatukan tekad melestarikan sejarah dan budaya daerah.
Wong Agung Mukti Jayadiningrat, atau akrab disapa Mas Agung, mendirikan Komunitas Sonangkara yang berpusat di Dusun Derwono,
Desa Balak, Kecamatan Songgon tempat yang ia sebut Dalem Jayadiningratan. Komunitas yang beranggotakan sekitar 25 pemuda ini terinspirasi dari kisah pasukan elit Kerajaan Blambangan pada masa Pangeran Danuningrat (1736–1763).
Pasukan tersebut dikenal dengan lambang anjing hutan atau Baong hewan yang hidup di hutan Pasewaran, Baluran, hingga kawasan Pantai Bentar, Probolinggo.
Filosofi Baong yang diambil adalah ketaatan, kesetiaan, ketangkasan, kekompakan, dan semangat kerja sama nilai-nilai yang ingin ditanamkan kembali kepada generasi muda.
“Banyak pemuda di sekitar kita yang mencari jati diri, ingin menjadi seniman, budayawan, atau pegiat sejarah, namun kurang pendampingan sehingga hanya tampil di media sosial tanpa karya nyata. Ini yang menjadi keprihatinan saya,” ungkap Mas Agung, sosok berusia 46 tahun yang mengabdikan hidupnya untuk Sejarah dan Budaya di Bumi Blambangan.
Di Sonangkara, para pemuda berusia 25 hingga 40 tahun dibina agar benar-benar memiliki karya dan diakui masyarakat, bukan sekadar bermodal foto dan ucapan.
Kegiatan dilakukan secara swadaya, meliputi meditasi di situs-situs sejarah setiap malam Jumat Kliwon, penelusuran jejak sejarah se-bekas Karesidenan Besuki setiap bulan, serta dukungan terhadap kegiatan budaya seperti Haul Rempeg dan Haul Tawang Alun.
Kegiatan utama yang menyatukan mereka adalah tradisi ngopi bersama, momen berbagi gagasan yang kemudian tumbuh menjadi aksi nyata, termasuk turun langsung merenovasi situs-situs bersejarah dengan mengandalkan kas keanggotaan.
Tampil di muka umum, mereka mengenakan pakaian serba merah lengkap dengan panji-panji dan pusaka kuno, menampilkan jati diri sekaligus penghormatan kepada leluhur. Banyak anggota yang awalnya belum dikenal, kini tumbuh menjadi sosok yang dihormati dan diakui kiprahnya.
Bagi Mas Agung, inilah makna pelestarian yang sesungguhnya. “Kita sering memandang sebelah mata potensi pemuda, padahal tanpa mereka yang murni mencintai dan bekerja nyata, segala seruan pelestarian tidak akan berarti apa-apa,” pungkasnya. (MSP)
Berita Terkait