Pembuatan Sagon Gulung
Bantul- media Binanguncemerlangtv.co.id, warta seputar kuliner dan ekonomi, dalam berbisnis ada orang berinovasi dan kreativ menciptakan usaha baru.
Namun ada pula yang melanjutkan usaha orang tuanys bahkan nenek moyangnya dengan alasan memang masih menguntungkan dan guna melestarikan kuliner tradisional serta khas tertentu.
Maryati (45) wartmga Wonoreja Gadingsari Sanden Kabupaten Bantul salah seorang yang hingga kini masih melestarikan dan mempertahankan usaha makanan tradsional khas Bantul yang merupakan tinggalan ibu dan neneknya.
Ia sejak kecil sudslh belajar membantu ibunya memproduksi makanan tradsional jawa yang disebut "Sagon Gulung" dengan nama perusahaan Makmur, di rumah tinggalnya dusun tersebut. "Betul.
Kami hingga kini bertahan melanjutkan dan melestarikan usaha orang tua yaitu membuat Sagon Gulung. Nyatanya juga tetap menghasilkan", ungkap Muryati saat bekerja membuat makanan itu, dirumahnya Wonorejo Bantul, dalam rangka dinamika expose potensi wilayah bersama Diskominfo Bantul, Jumat (9/10/2026).
Menurutnya, pangsa pasar makanan produknya relatif masih cukup diminati konsumen.
Maka kini masih mempekerjakan tenaga keraja perajin 4 orang untuk berproduksi dalam jumlah tertentu setiap harinya.
Makanan berbentuk bulat dan memanjang, berwarna cikelat dan bagian luarnya dibalut dengan gulungan tepung beras itu, dipasarkan di sejumlah tempat di Bantul.
Harga di produsen Rp 9.000 per kemasan isi 5 biji. Di pasaran Rp. 2.000 per biji ,(Rp.10.000) setiap kemasan.
"Bahan baku yang untuk digunakan diantranya berupa tepung beras, parutan kelapa dan gula kelapa", tutur Muryati tanpa menyebut ukuran adonanya.
Caranya bahwa tepung, parutan kelapa dan gula kelapa diuleni dan digoreng tanpa minyak secara tradsional yaitu mempergunakan bahan bakar berupa kayu agar arum dan rasanya sesuai.
Kemudian adonan yang sudah matang dibentuk dan selanjutnya dilapisi adonan tepung beras. Setelah itu makanan siap dikonsumsi atau dipasarkan "Memsng kelihatnya memproduksi sagon gulung mudah.
Namun sebenarnya memerlukan skill tersendiri", sambungnya. Menurut Kepala Dismominfo Bantul,,
Singgih Riyadi, pihaknya mengadakan dinamika expose ini dengan tujuan membantu promosi makanan khas Bantul untuk menguatkan perekonomian UMK. Sup
Berita Terkait